Desa Wae Rebo: Bagaimana Merasakan Rahasia Budaya dan Keindahan Desa Awan di Satar Mese Barat Manggarai



Desa Wae Rebo: Bagaimana Merasakan Rahasia Budaya dan Keindahan Desa Awan di Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai

Apakah Anda ingin mengunjungi sebuah desa adat yang memiliki rumah-rumah unik berbentuk kerucut, yang terletak di atas awan, dan yang masih menjaga tradisi dan kearifan lokalnya? Jika ya, maka Anda harus mengunjungi Desa Wae Rebo adalah, sebuah desa adat yang terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa Wae Rebo adalah salah satu destinasi wisata yang menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata biasa. Di sini, Anda bisa merasakan budaya dan keindahan Desa Awan, yang merupakan julukan bagi Desa Wae Rebo.

Lokasi Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo adalah Kampung wae rebo di Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini terletak di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi oleh pegunungan dan hutan13. Desa ini juga sering diselimuti oleh kabut, sehingga tampak seperti berada di atas awan. Desa ini memiliki pemandangan alam yang indah, seperti gunung, hutan, sungai, dan awan.

Cara ke Desa Wae Rebo

Cara ke Desa Wae Rebo, Anda harus terlebih dahulu sampai ke Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Anda bisa naik pesawat dari Kota Kupang atau Kota Ende ke Bandara Frans Sales Lega di Ruteng. Dari bandara, Anda bisa menggunakan transportasi umum, seperti angkot atau ojek, atau menyewa mobil atau motor untuk menuju Desa Denge, yang merupakan titik awal pendakian ke Desa Wae Rebo. Jarak dari pusat kota Ruteng ke Desa Denge sekitar 50 km, dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.

Perjalanan ke Wae Rebo Dari Desa Denge, Anda harus berjalan kaki sekitar 3-4 jam melewati jalan setapak, sungai, dan hutan untuk sampai ke Desa Wae Rebo. Jalur pendakian ini cukup menantang, karena Anda harus menaiki dan menuruni bukit, melintasi jembatan bambu, dan melewati hutan lebat. Namun, Anda juga akan disuguhi pemandangan alam yang mempesona, seperti air terjun, sawah, dan kebun kopi. Anda juga bisa melihat berbagai jenis flora dan fauna, seperti bunga, kupu-kupu, burung, dan monyet. Anda juga bisa berinteraksi dengan penduduk lokal, yang ramah dan bersahabat.

Rumah Adat Desa Wae Rebo



Desa Wae Rebo memiliki 7 rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang, yang berarti rumah bundar. Rumah adat ini memiliki 5 tingkat, yang masing-masing memiliki fungsi tertentu. Tingkat pertama disebut lutur, yang merupakan tempat tinggal bagi keluarga besar. Tingkat kedua disebut lobo, yang merupakan tempat menyimpan makanan dan barang-barang. Tingkat ketiga disebut lentar, yang merupakan tempat menyimpan benih untuk panen berikutnya. Tingkat keempat disebut lempa rae, yang merupakan tempat menyimpan cadangan makanan untuk masa paceklik. Tingkat kelima disebut hekang kode, yang merupakan tempat paling suci untuk menyimpan persembahan bagi leluhur.

Salah satu rumah adat, yang disebut Mbaru Tembong, merupakan rumah adat komunal, yang digunakan untuk pertemuan dan upacara adat. Di rumah ini, Anda bisa melihat berbagai benda pusaka, seperti gong, drum, dan tombak. Anda juga bisa menyaksikan berbagai ritual dan upacara adat, seperti upacara panen, upacara bersih desa, dan upacara penghormatan leluhur. Anda juga bisa mengikuti tarian dan nyanyian adat, yang biasanya dilakukan di malam hari.

Budaya Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo memiliki budaya yang kaya dan unik, yang masih memegang teguh tradisi dan kearifan lokal. Masyarakat Desa Wae Rebo mayoritas beragama Katolik, namun masih menghormati adat istiadat dan kepercayaan leluhur. Mereka memiliki ritual dan upacara adat yang dilakukan secara berkala, seperti upacara panen, upacara bersih desa, dan upacara penghormatan leluhur. Mereka juga memiliki tata cara dan etika yang harus diikuti oleh pengunjung, seperti tidak boleh membawa minuman keras, tidak boleh berisik, dan tidak boleh mengambil apapun dari desa tanpa izin.

Mereka juga memiliki kebiasaan dan keahlian yang khas, seperti menenun kain tenun ikat, membuat kopi, dan membuat gula aren. Kain tenun ikat adalah kain tradisional yang dibuat dengan cara mengikat dan mewarnai benang sebelum ditenun. Kain ini memiliki motif dan warna yang bermakna, seperti merah untuk darah, hitam untuk tanah, dan putih untuk tulang. Kain ini biasanya digunakan sebagai pakaian, selendang, atau hiasan. Kopi adalah komoditas utama yang dihasilkan oleh Desa Wae Rebo. Kopi ini memiliki rasa yang khas, karena ditanam di dataran tinggi dan diproses secara tradisional. Kopi ini biasanya diseduh dengan cara disaring dengan kain dan ditambahkan gula aren. Gula aren adalah gula yang dibuat dari nira atau cairan manis yang diambil dari pohon aren. Gula ini memiliki rasa yang manis dan gurih, dan biasanya digunakan sebagai pemanis atau camilan.

Wisata Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik dan menantang, karena menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata biasa. Di Desa Wae Rebo, Anda bisa merasakan suasana desa yang tenang, damai, dan bersahabat, serta menyaksikan kehidupan dan budaya masyarakat setempat. Anda juga bisa menikmati pemandangan alam yang indah, seperti gunung, hutan, sungai, dan awan12. Anda juga bisa menginap di salah satu rumah adat, dan merasakan sensasi tidur di lantai bambu dengan selimut tebal. Anda juga bisa mencicipi makanan khas Desa Wae Rebo, seperti jagung, ubi, pisang, dan kopi.

Tiket masuk Desa Wae Rebo adalah Rp 325.000 per orang, yang sudah termasuk biaya penginapan, makan, dan pemandu lokal. Anda juga bisa memilih salah satu paket wisata yang ditawarkan oleh berbagai biro perjalanan, yang biasanya mencakup kunjungan ke Wae Rebo, Labuan Bajo, dan Pulau Komodo. Paket wisata ini berdurasi antara 2-6 hari, dan harganya mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 3,7 juta per orang. Anda bisa memilih paket yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran Anda, atau mencari paket yang lain yang lebih menarik. 


Penginapan di Wae Rebo

Apabila anda berencana untuk bermalam di Kampung Wae rebo, ada 2 alternatif yang dapat anda pilih yaitu:

  1. Menginap di Dintor, disana terdapat Vila Molas dan Todo Purang Tedeng Homestay.
  2. Menginap di Homestay Desa  Penginapan Wae Rebo sendiri.wae rebo lodge


Berikut adalah beberapa paket wisata Wae Rebo yang saya temukan dari hasil pencarian web:

Paket Wisata Wae Rebo 3 Hari 2 Malam - Flores Adventure: Paket ini ditawarkan oleh Flores Adventure, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa wisata alam. Paket ini berdurasi 3 hari 2 malam, dan mencakup kunjungan ke Wae Rebo, Labuan Bajo, Pulau Padar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Kanawa. Harga paket ini mulai dari Rp 2.500.000 per orang, dan sudah termasuk transportasi, speed boat, penginapan, air mineral, makan, peralatan snorkeling, tiket masuk objek wisata, lokal guide, dan lain-lain.

Paket Wisata Wae Rebo 4 Hari 3 Malam - Flores Exotic Tours: Paket ini ditawarkan oleh Flores Exotic Tours, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa wisata budaya dan alam. Paket ini berdurasi 4 hari 3 malam, dan mencakup kunjungan ke Wae Rebo, Labuan Bajo, Pulau Padar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kelor, dan Pulau Bidadari. Harga paket ini mulai dari Rp 3.000.000 per orang, dan sudah termasuk transportasi, speed boat, penginapan, air mineral, makan, peralatan snorkeling, tiket masuk objek wisata, lokal guide, dan lain-lain.

Paket Wisata Wae Rebo 5 Hari 4 Malam - Flores Trip: Paket ini ditawarkan oleh Flores Trip, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa wisata petualangan dan alam. Paket ini berdurasi 5 hari 4 malam, dan mencakup kunjungan ke Wae Rebo, Labuan Bajo, Pulau Padar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kanawa, Pulau Manta, dan Pulau Gili Lawa. Harga paket ini mulai dari Rp 3.500.000 per orang, dan sudah termasuk transportasi, speed boat, penginapan, air mineral, makan, peralatan snorkeling, tiket masuk objek wisata, lokal guide, dan lain-lain.

Demikianlah beberapa paket wisata Wae Rebo yang saya temukan untuk Anda. Anda bisa memilih salah satu paket yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran Anda, atau mencari paket lain yang lebih menarik. Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang Wae Rebo, Anda bisa mengunjungi situs web Pemerintah Kabupaten Manggarai, yang merupakan situs resmi. Di situs ini, Anda bisa mendapatkan informasi lengkap tentang sejarah, budaya, wisata, dan berita terbaru dari Wae Rebo. Selamat berwisata! 😊


FAQ Tentang Wae Rebo Village:

Apa itu Wae Rebo?

Wae Rebo adalah sebuah desa adat yang terletak di pegunungan terpencil di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa ini memiliki 7 rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang, yang merupakan warisan budaya dan arsitektur Manggarai. Desa ini juga dikenal sebagai desa di atas awan, karena sering diselimuti kabut dan memiliki pemandangan alam yang indah.

Bagaimana cara ke Wae Rebo?

Untuk mencapai Wae Rebo, Anda harus terlebih dahulu sampai ke Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Anda bisa naik pesawat dari Kota Kupang atau Kota Ende ke Bandara Frans Sales Lega di Ruteng. Dari bandara, Anda bisa menggunakan transportasi umum, seperti angkot atau ojek, atau menyewa mobil atau motor untuk menuju Desa Denge, yang merupakan titik awal pendakian ke Wae Rebo. Dari Desa Denge, Anda harus berjalan kaki sekitar 3-4 jam melewati jalan setapak, sungai, dan hutan untuk sampai ke Wae Rebo.


Apa saja yang bisa dilakukan dan dilihat di Wae Rebo?

Di Wae Rebo, Anda bisa merasakan suasana desa yang tenang, damai, dan bersahabat, serta menyaksikan kehidupan dan budaya masyarakat setempat. Anda juga bisa menikmati pemandangan alam yang indah, seperti gunung, hutan, sungai, dan awan. Anda juga bisa menginap di salah satu rumah adat, dan merasakan sensasi tidur di lantai bambu dengan selimut tebal. Anda juga bisa mencicipi makanan khas Wae Rebo, seperti jagung, ubi, pisang, dan kopi. Anda juga bisa menyaksikan berbagai ritual dan upacara adat, seperti upacara panen, upacara bersih desa, dan upacara penghormatan leluhur.


Berapa biaya untuk mengunjungi Wae Rebo?

Tiket masuk Wae Rebo adalah Rp 325.000 per orang, yang sudah termasuk biaya penginapan, makan, dan pemandu lokal. Anda juga bisa memilih salah satu paket wisata yang ditawarkan oleh berbagai biro perjalanan, yang biasanya mencakup kunjungan ke Wae Rebo, Labuan Bajo, dan Pulau Komodo. Paket wisata ini berdurasi antara 2-6 hari, dan harganya mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 3,7 juta per orang. Anda bisa memilih paket yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran Anda, atau mencari paket lain yang lebih menarik.


Apa saja aturan yang harus diikuti oleh pengunjung Wae Rebo?

Pengunjung Wae Rebo harus menghormati adat istiadat dan kepercayaan leluhur masyarakat setempat. Beberapa aturan yang harus diikuti oleh pengunjung adalah:

Tidak boleh membawa minuman keras, rokok, atau barang-barang yang bisa mencemari lingkungan.

Tidak boleh berisik, berkelahi, atau berbuat hal-hal yang bisa mengganggu ketenangan desa.

Tidak boleh mengambil apapun dari desa tanpa izin, seperti tanaman, hewan, atau benda pusaka.

Tidak boleh memasuki rumah adat tanpa izin, atau mengganggu aktivitas masyarakat yang sedang berlangsung di rumah adat.

Tidak boleh memotret atau merekam masyarakat tanpa izin, atau mengunggah foto atau video yang bisa merugikan nama baik desa.

Tidak boleh meninggalkan sampah atau barang-barang yang tidak dibutuhkan di desa, dan harus membawa kembali semua barang-barang yang dibawa ke desa.


Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Wae Rebo?

Wae Rebo dapat dikunjungi sepanjang tahun, namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih waktu kunjungan. Jika Anda ingin melihat pemandangan desa yang diselimuti kabut, Anda bisa mengunjungi Wae Rebo pada musim hujan, yaitu antara November hingga Maret. Namun, Anda harus siap menghadapi hujan dan jalur pendakian yang licin dan berlumpur. Jika Anda ingin melihat pemandangan desa yang jelas dan cerah, Anda bisa mengunjungi Wae Rebo pada musim kemarau, yaitu antara April hingga Oktober. Namun, Anda harus siap menghadapi cuaca yang panas dan kering, serta membawa air minum yang cukup. Selain itu, Anda juga bisa menyesuaikan waktu kunjungan Anda dengan jadwal upacara-upacara adat yang diadakan di Wae Rebo, seperti upacara panen, upacara bersih desa, dan upacara penghormatan leluhur.


Apa yang harus dibawa saat mengunjungi Wae Rebo?

Beberapa barang yang harus dibawa saat mengunjungi Wae Rebo adalah:

Pakaian dan sepatu yang nyaman dan sesuai dengan cuaca

Jaket atau sweater untuk menghangatkan tubuh di malam hari

Senter atau lampu senter untuk menerangi jalan di malam hari

Obat-obatan pribadi, seperti obat sakit kepala, obat perut, atau obat luka

Air minum dan cemilan untuk mengisi energi selama pendakian

Uang tunai untuk membayar tiket masuk, biaya penginapan, makan, dan pemandu lokal, serta untuk membeli souvenir

Kamera atau ponsel untuk mengabadikan momen-momen indah di Wae Rebo

Perlengkapan mandi, seperti sabun, sampo, dan handuk

Tas plastik atau kantong untuk membawa kembali sampah yang dihasilkan


Bagaimana kondisi penginapan di Wae Rebo?

Penginapan di Wae Rebo adalah rumah adat Mbaru Niang, yang berbentuk kerucut dan berlantai bambu. Rumah adat ini dapat menampung sekitar 30 orang, dan pengunjung akan tidur bersama-sama dengan keluarga atau rombongan lain. Tidak ada tempat tidur atau kasur di rumah adat, hanya tikar dan selimut yang disediakan oleh masyarakat setempat. Tidak ada kamar mandi atau toilet di dalam rumah adat, melainkan di luar rumah adat, yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Kamar mandi dan toilet ini bersifat umum, dan tidak dilengkapi dengan air panas atau shower. Tidak ada listrik atau sinyal telepon di Wae Rebo, hanya lampu minyak tanah yang dinyalakan pada malam hari. Tidak ada fasilitas hiburan atau internet di Wae Rebo, hanya suasana desa yang tenang dan damai.


Apa yang harus dilakukan saat mengunjungi Wae Rebo?

Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan saat mengunjungi Wae Rebo adalah:

Mengikuti upacara penyambutan, yaitu sebuah ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menyambut dan memberkati pengunjung yang datang ke Wae Rebo. Dalam upacara ini, pengunjung akan diberikan minuman khas Wae Rebo, yaitu kopi dan tuak, serta diberikan syal sebagai tanda penghargaan.

Mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Wae Rebo, yaitu dengan berinteraksi, berbincang, atau bermain dengan masyarakat setempat, terutama dengan anak-anak. Pengunjung juga bisa belajar tentang sejarah, tradisi, dan adat istiadat Wae Rebo, serta melihat berbagai benda pusaka yang disimpan di rumah adat.

Menikmati keindahan alam Wae Rebo, yaitu dengan berjalan-jalan di sekitar desa, menikmati pemandangan gunung, hutan, sungai, dan awan, serta mengambil foto-foto yang menakjubkan. Pengunjung juga bisa melihat berbagai tanaman dan hewan yang hidup di Wae Rebo, seperti kopi, vanili, kayu manis, burung, dan monyet.

Mencicipi kuliner khas Wae Rebo, yaitu dengan menikmati makanan yang disajikan oleh masyarakat setempat, seperti jagung, ubi, pisang, dan kopi. Pengunjung juga bisa mencoba membuat makanan sendiri, seperti menumbuk jagung, menggoreng pisang, atau menyeduh kopi.


Demikianlah beberapa FAQ tentang Desa Wae Rebo yang saya buat untuk Anda. Semoga bermanfaat! 😊


LihatTutupKomentar

NUZANTHRA

NUZANTHRA
Nuzanthra:Mengulas Nusantara, Teknologi, Sejarah, Budaya, dan Misteri